Film, Uncategorized

I Am Hope The Movie : Karena Kanker Bukanlah Akhir dari Segalanya

Ilustrasi Hopeless Patient.  Gambar diambil dari : http://blogs.jpmsonline.com/wp-content/uploads/2014/09/4.jpg

Selama setahun lebih saya menjadi dokter muda di RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado, ada banyaakkkk sekali macam-macam penyakit yang saya temui. Dari penyakit yang paling sederhana, sampai yang paling komplikasi. Dari penyakit yang dianggap aib, sampai penyakit yang kadang-kadang malah dibanggakan oleh penderitanya.

 

Diantara semua jenis penyakit yang pernah saya lihat, ada dua penyakit yang lebih terdengar bagaikan vonis mati bagi penderitanya. Yang pertama, Kanker. Yang kedua, HIV/AIDS. Biasanya pasien kanker atau HIV/AIDS tidak langsung terima begitu saja didiagnosa oleh si dokter. Kebanyakan dari mereka coba pergi ke rumah sakit atau dokter lain, cek lab ulang, foto rontgen atau CT Scan lagi, sembari berdoa akan keluar hasil yang berbeda.

Ilustrasi Hopeless Patient. Gambar diambil dari : http://blogs.jpmsonline.com/wp-content/uploads/2014/09/4.jpg
Ilustrasi Hopeless Patient. Gambar diambil dari : http://blogs.jpmsonline.com/wp-content/uploads/2014/09/4.jpg

 

Apa yang saya lihat dan saya coba simpulkan ini ternyata juga diamini oleh studi epidemiologi. American Cancer Society memperkirakan satu dari empat pasien kanker mengalami depresi. Beberapa penelitian lain bahkan menemukan  angka kejadian depresi yang lebih tinggi, terjadi pada 20-80% pasien kanker.

 

Nah melihat fenomena sosial seperti ini, Adilla Dimitri berserta tim produsernya mencoba mengangkatnya dalam sebuah film yang berjudul I Am Hope. Buat yang belum nonton trailernya, coba deh ditonton dulu trailer film ini.

 

 

Kesan pertama saya nonton trailer film ini, ini film keren banget. Alur cerita, pesan yang disampaikan, sampai acting dari deretan pemain film ini layak mendapat standing applause.

 

Film yang berjudul “I Am Hope” ini mengangkat kisah seorang gadis muda bernama Mia. Seperti kebanyakan orang muda, Mia punya impian. Mimpinya adalah menggelar sebuah pertunjukan teater. Namun seperti pencuri yang datang di malang hari, tanpa diundang dan disangka-sangka, diam-diam sel-sel kanker telah menggerogoti tubuhnya. Hingga suatu ketika ia merasa ada yang tak biasa dalam tubuhnya. Rangkaian pemeriksaan medis dilakukan, dan hasilnya menuju pada satu diagnosa : Kanker. Bagi Mia, diagnosa dokter tadi ibarat petir di siang bolong. Kejutan yang mengecewakan. Kejutan yang horror. Mia tahu kedepannya ia harus melakukan perjuangan yang menyakitkan dan berkepanjangan. Ia tahu bukan dari kata orang atau yang buku-buku tulis tentang kanker, tapi dari pengalamannya.  Mia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa sadisnya sel-sel kanker menyerang si empunya tubuh.  Meski telah melakukan usaha mati-matian yang menghabiskan sebagian besar tabungan keluarga mereka, pada akhirnya kanker membuat ibunda Mia meninggalkan dunia lebih dini. Namun gadis muda ini memiliki respon yang luar biasa. Diagnosa kanker tidak membuatnya depresi, lalu hidup dengan ala kadarnya. Terpukul mungkin iya, tapi tanpa perlu berlama-lama, ia memutuskan untuk bangkit. Ia memutuskan untuk fight melawan penyakitnya. Sisa waktu dan kekuatan yang ia miliki, digunakannya untuk mengejar impiannya. Di tengah-tengah jadwal kemoterapi dan rangkaian pengobatan yang ia jalani, dengan tekun Mia terus mencari jalan untuk bisa mengadakan pertunjukan teater impiannya. Segala daya dan upaya yang ia kerahkan menuntunnya ke pertemuan dengan seorang produser pertunjukkan ternama.

 

Sinopsis yang ditulis di web official I Am Hope the Movie hanya sampai disini. Tidak dijelaskan peran seorang pemuda yang dibintangi oleh Fachri Albar ini menunjukkan kalau unsur romansa dalam film ini hanya sebagai pemanis cerita, bukan tema utama yang diangkat. Trailer film ini juga tidak menceritakan bagaimana akhir kisah dari perjuangan Mia. Pihak Alkimia Production bersama dengan Media Charita Digita (Uplek.com) mengajak kita semua untuk berimajinasi dan menuliskan ekspektasi mereka tentang ending dari film ini.

Dalam imajinasi saya, ada tiga skenario yang boleh jadi ending dari film ini :

  1. Sad-ending story. Mia meninggal dunia, bahkan sebelum ia melihat pertunjukkan teater impiannya berhasil terlaksa. Meski demikian, perjuangannya mengejar mimpi menginspirasi papa atau adiknya untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangannya. Lalu terlaksanalah suatu pertunjukkan teater yang boom dan menginspirasi banyak orang.
  2. Sad-ending story, dengan versi yang lebih dramatis. Mia dengan sisa-sisa kekuatannya berhasil melihat pertunjukkan teater yang ia perjuangkan. Namun di saat sedang menyaksikan pertunjukkan teater itulah Mia menghembuskan nafas terakhirnya. Meski demikian, pertunjukkan teater garapannya booming dan menginspirasi banyak orang.
  3. Happy ending story. Serangkaian terapi yang Mia jalani berhasil membersihkan sel-sel kanker dari tubuhnya hingga ia dinyatakan bebas dari kanker. Mia tak menyiakan-nyiakan anugerah “kesempatan kedua” yang ia terima. Selanjutnya Mia berhasil menyelenggarakan teater pertamanya yang booming dan menginspirasi banyak orang. Tak berhenti sampai di situ, Mia akan menyelenggarakan teater kedua, ketiga, keempat, dan selama hidupnya ia akan dikenal sebagai seorang produser pertunjukkan teater yang menginspirasi. Dan sebagai rasa syukur untuk “kesempatan kedua” yang ia peroleh, ia mengabdikan diri menjadi contoh dan aktivis yang memotivasi para survivor cancer untuk terus memiliki harapan.

 

Kalau dilihat dari tiga skenario yang saya tulis diatas, bisa disimpulkan kalau bagi saya bukan perkara yang penting kapan Mia meninggal dunia. Bukan juga tentang apakah serangkaian terapi yang dilakukan oleh Mia akan menyembuhkannya atau tidak. Bukan disitu ekspektasi saya tentang ending dari film ini. Menurut saya, medicine just a tools. Dokter hanyalah perantara. Segala daya upaya untuk melakukan serangkaian terapi menunjukkan bagaimana kita telah berusaha melakukan yang terbaik. We do our best, let God do the rest. Sembuh atau tidak sembuh, itu hak preogratifNYA.  Meski demikian, ada satu hal yang saya harapkan menjadi ending dari film ini : perjuangan Mia tidak sia-sia. Jika pada akhirnya Mia harus meghembuskan nafas terakhir sebelum pergelaran teaternya terwujud, setidaknya biarlah perjuangannya melawan kanker sembari mengejar mimpinya menjadi inspirasi orang-orang untuk meneruskan tongkat estafet perjuangannya. Mia boleh jadi meninggal dunia, tapi mimpi-mimpinya tetap hidup. Dan Mia akan dikenang sebagai sosok pejuang harapan. Perjuangan Mia tidak pernah menjadi hal yang sia-sia.

 

Buat teman-teman yang penasaran bagaimana ending sebenarnya dari film I Am Hope,  teman-teman tidak perlu menunggu lama kok. Film ini akan segera diputar di bioskop-bioskop langganan kita. Catat tanggalnya ya : 18 Februari 2016. Entah kebetulan atau tidak, pemutaran perdana film ini bertepatan 2 minggu paska hari peringatan  world cancer day. Jangan lupa ajak teman-teman, kakak, adik, mama, papa, om, tante opa, oma, dan semuanya. Biar semangat yang dimiliki Mia dalam film ini menjangkiti banyak orang. Biar sikap pantang menyerahnya menjadi teladan kita semua.

 

Buat teman-teman yang seorang cancer survivor, film ini dapat mengobarkan kembali semangat teman-teman untuk terus berjuang melawan penyakit ini sekaligus menggunakan hari-hari yang ada dengan bijaksana. Tanpa bermaksud menggurui, dan semoga saya tidak kurang peka dengan apa yang teman-teman cancer survivor alami,please jangan menghadapi kanker dengan sikap negatif. Sikap negatif seperti kecewa, putus asa,  mencari-cari “kambing hitam” penyebab kanker, atau malah marah-marah sama Tuhan tidak pernah menjadi solusi. Namun alangkah indahnya jika kemoterapi demi kemoterapi atau radioterapi demi radioterapi dijalani dengan suatu ekspektasi akan memberi kesembuhan. Tetap lawan rasa sakit yang berkepanjangan, tetap lakukan usaha yang terbaik, tetap memiliki harapan momen yang selama ini diimpikan akan berhasil dicapai. Dan jika pada akhirnya harus meninggal, yang cepat atau lambat juga akan dialami semua orang, setidaknya hidupmu tidak pernah sia-sia.

 

Buat teman-teman yang bukan cancer survivor, semangat perjuangan Mia juga tetap relevan. Meski tak mengidap cancer atau cacat fisik, ada banyak orang muda yang telah mengubur mimpinya dalam-dalam. Berbagai tantangan atau kesulitan dalam realita kehidupan seringkali membuat orang menerima dan cukup puas hidup dengan realita yang ada. Film yang diproduseri oleh Wulan Guritno, Janna Sukasah-Joesoef, dan Amanda Sukasah ini juga mengingatkan kita semua kalau kita tidak hidup selamanya di dunia ini. Mengapa kita tidak membuat hidup yang singkat menjadi hidup yang berarti, yang berdampak positif bagi saudara-saudara kita ?  Film yang dibintangi deretan artis ternama ini juga meningatkan kembali kalau kanker bukanlah penyakit yang ecek-ecek. Yuk mari kita semua lakukan yang terbaik untuk stay away dari bahan-bahan yang telah diindentikasi bersifat karsinogenik (materi yang diyakini merupakan faktor pencetus kanker).

 

Sebagai merchandise dari film I am The Hope, ada gelang yang diberi nama Gelang Harapan. Sesuai namanya, gelang ini dimaksudkan untuk membuat “harapan” itu selalu ada. Dengan memiliki benda yang bisa diasosiasikan dengan film ini, diharapkan nilai-nilai dari film I am the hope ini terus dekat dengan penontonnya. Misalnya ketika kita mulai ogah-ogahan dengan komitmen kita untuk menjadwalkan olahraga secara rutin, gelang ini dapat mengingatkan kita untuk terus menjaga kesehatan kita demi mimpi yang kita perjuangkan.

 

ntuk membawa pulang satu gelang harapan yang dibanderol dengan tiket nonton film I Am Hope ini, kita perlu menyiapkan budget Rp 150.000,-. Bagi sebagian orang,budget seratus ribu lebih untuk sebuah gelang mungkin cukup mahal. Namun dengan membayar harga yang tidak sedikit, biasanya kita lebih menghargai makna atau nilai dari suatu benda. Nahh sudah barang tentu Gelang Harapan layak mendapat nilai yang istimewa itu. Oh ya, Keuntungan yang didapat dari sale Gelang Harapan ini juga akan didonasikan ke yayasan & penderita kanker lho.

 

Selain dari merchandise Bracelet of Hope, kita juga bisa terus dekat dengan semangat perjuangan Mia melalui lagu original sound track dari film ini. Liriknya menginspirasi, aransemen musiknya juga enak didengar. Yuk masukkan lagu yang dibawakan oleh Ran ini  di playlist gadget kesayangan kita.

 

*Catatan :

“PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition #IAmHope hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp.150.000,- (untuk 1 gelang & 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk Dari #BraceletOfHope 100% & sebagian dari profit film akan disumbangkan untuk yayasan & penderita kanker sekaligus membantu kami membangun rumah singgah .
Follow Twitter @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Follow Instagram @Gelangharapan dan @iamhopethemovie
Follow Twitter @infouplek dan Instagram @Uplekpedia
#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope”